Alkitab Bahasa asli PL

Di posting oleh Christian tan Hermanto pada 05:17 PM, 23-Sep-13 • Di: pengajaran/Doktrin


Alkitab Bahasa Asli P.L.

Sebagaimana telah kita ketahui
bahwa kitab P.L. orang Kristen
itu berasal dari kitab suci orang
Yahudi. Pada waktu
kejatuhan Yerusalem ke tangan
Babilon, kelihatannya kitab-kitab P.L. yang sudah ada pada saat
itu diselamatkan oleh nabi
Yeremia. Nabi Yeremia yang tahu
persis apa yang akan terjadi
menyadari bahwa kitab suci jauh
lebih berharga dari apapun. Nebukadnezar yang tahu bahwa
Yeremia menubuatkan kejatuhan
Yerusalem sangat menghormati
Yeremia. Bahkan ia membiarkan
Yeremia memilih apakah ia mau
tinggal di Yerusalem atau mau ikut ke Babel, dan akhirnya
Yeremia memilih tinggal di
Yerusalem (Yer.39:11-14, 40:4-5).

Sekembali dari pembuangan,
orang Yahudi mengalami
kebangunan rohani. Mereka bukan hanya pergi ke Yerusalem
tiga kali setahun, bahkan
mendirikan sinagoge di seluruh
Israel. Keberadaan sinagoge itu
bukan hanya untuk kegiatan
keagamaan, bahkan bermanfaat sebagai sekolahan membaca bagi
anak-anak. Keadaan ini
menyebabkan dibutuhkannya
kitab-kitab P.L. karena itu
adalah bahan bacaan satu-
satunya. Keadaan ini juga sekaligus melestarikan
kanon kitab P.L. karena
jumlahnya menjadi semakin
banyak sehingga kalau yang
satu rusak, masih ada yang lain.
Kini terkumpul sekitar 200,000 (dua ratus ribu) naskah kuno
dalam bentuk fragment dalam
bahasa Ibrani dan Aramik.

Dengan cara demikian Allah
memelihara firmanNya, yaitu
agar orang-orang di kemudian hari dapat
memperbandingkannya. Ada
orang bertanya, “apakah kitab
P.L. yang ada di tangan kita
masih asli?” Jawabannya,
“tentu, karena ada kurang lebih dua ratus ribu fragment
yang terkumpul dan dibanding-
bandingkan. Ketika Alexander Agung
mengalahkan dunia pada abad
ketiga sebelum kedatangan
Kristus, bahasa Yunani menjadi
bahasa internasional. Satu abad kemudian, yaitu abad
kedua sebelum kedatangan
Kristus, generasi muda Yahudi
perantauan menjadi lebih fasih
berbahasa Yunani sehingga
penerjemahan kitab P.L. ke dalam bahasa Yunani dirasakan
sangat diperlukan. Kemudian
sebuah kitab terjemahan
dihasilkan oleh 72 orang
penerjemah, dan disebut
Septuaginta yang artinya tujuh puluh, yaitu angka genap dari
jumlah penerjemahnya.
Akhirnya pada masa kehadiran
Tuhan Yesus, kitab P.L. yang
beredar ada dua macam, yaitu
yang berbahasa Ibrani dan berbahasa Yunani
(Septuaginta).

Selain terdiri dari
dua macam bahasa, juga ada
versi yang dipakai di sinagoge
dan versi yang dipakai oleh
pribadi di rumah. Versi sinagoge disalin ulang dengan sangat
teliti. Jika ditemukan empat
kesalahan, maka dianggap rusak
dan segera
dimusnahkan. [Gleason L.
Archer,The Zondervan Pictorial Encyclopedia of
the Bible (Grand Rapid: Zondervan Publishing House,
1982) Vol.v, p.684]

Mereka tidak
menghendaki kehadiran salinan
yang ada kesalahan agar jangan
sampai makin hari makin banyak
salinan yang salah. Kemudian pada tahun A.D. 70
terjadi
penghancuran kota Yerusalem
beserta Bait Allah.
Orang Israel terkocar-kacir dan
tersebar ke mana-mana. Mereka kehilangan identitas sebagai
bangsa. Setelah melalui sebuah
periode waktu yang agak
panjang sebagian
orang Israel menyadari bahwa
mereka perlu berbuat sesuatu agar identitas bangsa mereka
tidak hilang sama sekali. Mereka
menyadari bahwa kitab P.L.
adalah tumpuan jati diri orang
Yahudi serta merupakan pusat
integritas keluarga Yahudi. Jika masih ada kanon kitab P.L. yang
terus-menerus dibacakan di
sinagoge dan dalam keluarga
masing-masing, maka keyahudian
mereka pasti tidak akan hilang.
Pada periode A.D.70-900, sekelompok orang Yahudi yang
disebut Baly ha- Masoret (master of tradition atau guru adat- istiadat) berusaha
mengumpulkan salinan-salinan
untuk memantapkan eksistensi
kitab P.L. Perlu diketahui bahwa
yang kemungkinan terbakar
adalah yang ada di kota Yerusalem, tetapi masih ada
banyak salinan yang tersimpan
di sinagoge-sinagoge yang bisa
dijadikan patokan. Alasan yang
mendorong mereka melakukan
pekerjaan itu ialah agar identitas keyahudian anak-cucu
mereka tidak pudar. Dengan
tersimpan utuhnya kitab PL
maka itu bisa menjadi landasan
bagi eksistensi keyahudian
mereka. Jadi Baly ha-Masoret itu
berusaha mengumpulkan salinan-
salinan dan berusaha
membubuhkan huruf hidup
(vokal) agar generasi yang
kurang fasih berbahasa Ibrani bisa belajar membaca. Hasilnya
bukan saja iman Yudaisme
mereka tetap terpelihara,
bahkan bahasa Ibrani tetap
lestari sementara bahasa Mesir,
Persia dan lain-lain musnah terkikis waktu.
Dalam melaksanakan tugas yang
sangat berat itu para Baly ha-
masoret dibantu oleh ahli
tatabahasa (grammar) yang dalam bahasa Ibrani disebut nag danim. ParaBaly ha- Masoret dannag danim, yaitu orang-orang Yahudi yang
masih sangat fasih bahkan ahli
dalam bahasa Ibrani itu,
menolong memasang huruf hidup
dan tanda baca ke dalam teks
yang tadinya hanya terdiri dari huruf mati dan tanpa tanda
baca.Merekalah yang paling tahu
bunyi tiap-tiap kata termasuk
huruf hidup yang menyertai
YHVH, bukan theolog Jerman
yang beratus bahkan beribu tahun kemudian. Hasil karya
mereka disebut Masoretic Text (Teks Masoretik), dipakai oleh kaum Yahudi sekarang
maupun orang-orang Kristen
terutama kelompok Kristen
Fundamentalis.

Dalam Masoretic Text ini nama Sang Pencipta ditulis (hwhy) yang kalau dibaca
bunyinyaJehovah/ Yehowah (dalam bhs Ibrani J bisa juga dibaca Y dan V bisa
dibaca W), bukan Yahweh. Dari Mana Datangnya
Yahweh? Kemudian sejumlah theolog
Jerman mulai memikirkan
keaslian ucapan Yehowah.
Mereka mengembangkan teori
bahwa huruf hidupnya diambil
dari kata adonai. Dan juga dikembangkan teori bahwa ada
catatan bahasa Yunani tentang
nama Allah orang Yahudi
ituIαΩ (iao). Dariiao atau Yao dicocokkan dengan kata halleluyah sehingga theolog Liberal modern sangat
yakin bahwa ucapannya
menjadi Yahweh. Johann Ludwig Ewald, (16 September 1747) adalah termasuk theolog awal
yang mendukung teori
tersebut.


Heinrick Andreas Christoph Havernick pada tahun1839 memperkenalkan bacaanYahweh di dalam berbagai tulisannya. [McClintock,
John & Strong, James.
Cyclopedia of Biblical, Theological,
and Ecclesiastical
Literature. Grand Rapids: Baker
Book House, 1981, Vol.iv. pp.809-810]

Kesimpulan Kebenaran Dengan tidak bermaksud
mendukung kelompok Saksi
Jehovah, kita setuju bahwa
Masoretic Text adalah teks
yang benar, yang paling
akurat.Para Baly ha-Masoret dan Nag Danim adalah orang-
orang yang tahu persis
kandungan huruf hidup yang
menyertai empat konsonan
(JHVH / YHWH) yang dipakai Sang
Pencipta sebagai sebutan kemuliaanNya
sehingga sebutannya yang benar adalah
Yehowah atau Jehovah.

Dari kesimpulan theologi mereka yang
menyesatkan (Liberal) sulit
untuk menerima bahwa asumsi
mereka tentang bunyi huruf
hidup yang menyertai empat
konsonan tersebut bisa benar. Masoretic Text (MT) kitab PL danTextus Receptus (TR) kitab PB adalah fondasi kekristenan, dan merupakan
otoritas tertinggi. Semua Alkitab
terjemahan harus disesuaikan
pada Teks PL dan PB yang kita
yakini adalah firman Allah yang
dipelihara olehNya yaitu Masoretic Text (MT) kitab PL danTextus Receptus (TR) kitab PB.
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Komentar terbaru dinonaktifkan pada posting ini.